Menyelisik Naskah di Museum Gentala Arasy
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
Pada hari Kamis tepatnya tanggal 12 Desember 2019 lalu, mahasiswa dari Universitas Jambi Fakultas Ilmu Budaya terkhusus program studi Sastra Indonesia melakukan kunjungan ke Museum Gentala Arasyi. Tujuan utama dari kunjungan tersebut tidak lain ialah untuk mencari dan melihat naskah-naskah kuno yang tersimpan di museum, terkhusus naskah yang bertuliskan Arab dan berbahasa Melayu, selain daripada itu juga bertujuan untuk berwisata sembari belajar mengenai naskah-naskah yang ada juga melihat-lihat benda atau barang apa saja yang tersimpan di dalam museum tersebut. Untuk dapat masuk ke dalam museum, sebagai pengunjung maka diharuskan untuk membeli tiket masuk terlebih dahulu. Harga tiket masuk yang ditawarkan cukup murah, untuk usia anak-anak hanya dibandrol dengan harga Rp. 2.000/orang, sedangkan untuk usia dewasa cukup membayar Rp. 3.000/orang. Setelah itu pengunjung akan dipersilahkan masuk dan diberi sambutan hangat oleh beberapa petugas yang bekerja di sana dan kemudian para mahasiswa juga dipandu langsung oleh salah satu petugas yang bekerja di sana. Petugasnya pun sangat sigap dalam memandu mahasiswa untuk mengetahui apa yang diinginkan atau dicari mahasiswa tersebut sebagai tujuan utama ke museum Gentala Arasyi. Tidak hanya itu saja yang menarik dari kunjungan saat itu, mahasiswa-mahasiswi yang berkunjung tersebut diberikan sejumlah buku Katalog mengenai museum Gentala Arasy, yang mana di dalamnya terdapat beberapa penjelasan mengenai latar belakang museum itu sendiri serta beberapa penjelasan mengenasi naskah.
Dalam Katalog tersebut menjelaskan bahwa museum Gentala Arasy ini merupakan hasil rumusan rancangan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU), berwujud sebagai “ Menara Jam Penanda Waktu Ibadah dan Hari-Hari Besar”, dan moment lainnya seperti waktu berbuka, syahur dan lain-lainnya, yang terkoneksi secara mekanik elektronik dengan mesjid Agung Al-Falah. Berdasrkan kesepakatan dari menara jam tersebut akhirnya diberi nama “Gentala Arasy”, yang sangat erat akan makna dari penamaan tersebut yakni, kata Genta yang berarti lonceng dan Tala yang berarti penyelaras, arti harfiahnya loceng/tanda penyelaras bagi umat muslim untuk menghadap ke arasy sebagaimana lazimnya, ketika berdoa sambil menengadahkan tangan. Selain daripada pemaknaan tersebut, adapula pemaknaan dalam pengejaan nama “Gentala Arasy” tersebut menjadi Gen: Genah, Ta: Tanah, La: Kelahiran, Arasy: Abdurrahman Sayuti. Selain dari latar belakang tersebut, dalam Katalog tersebut juga menunjukkan beberapa info mengenai naskah, yang mana tujuan utama para mahasiswa pada kunjungan ke museum Gentala Arasyi ini ialah untuk mencari dan melihat naskah-naskah kuno. Pada katalog dijelaskan bahwa naskah berasal dari bahasa Arab yaitu: nuskhah yang berarti salinan, turunan (Bisri, Adib & Munawir, 1999:718). Secara istilah naskah dalam kegiatan filologi adalah bahan tulisan tangan dalam bentuk perangkat keras. Menurut Djamaris dalam Eny Kusumawati Damayanti (2000:8) Naskah adalah semua peninggalan tertulis nenek moyang pada kertas, lontar, kulit kayu, dan rotan.
Terlepas dari katalog tersebut, para mahasiswa diarahkan untuk melihat secara langsung naskah-naskah yang dipajang di museum tersebut, ternyata cukup banyak naskah yang bertuliskan huruf Arab namun sedikit sekali naskah yang menggunakan bahasa Melayu. Berikut merupakan beberapa gambar naskah yang didapati di museum tersebut dan merupakan naskah yang sudah dikaji atau diteliti:
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
1. Kitab Dalil Khairat/Book Of Dalail Khairat: Karangan Syaid Abdullah Muhammad bin Sulaiman, tahun 1327 H, huruf Arab dan bahasa Arab. Berisikan tentang Shalawat Nabi. Milik H. Tarmizi Guru Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi.
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
2. Kitab Hadis Marbawi: Isi bertulis Arab/penjelas Arab Melayu, bahasa Arab, lebar 17cm, panjang 27cm, 33 baris dan 330 hal. Penulis Muhammad Idris Ab-durlatif Almarbawi Al-azhari (1933 M/1352 H) juz kedua. Berisikan tentang shalat dan ibadah lainnya. Kabupaten Tebo.
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
3. Kitab Syamsul Hidayah Fiqishshatimaulidin Nabi Khairal Bariyah/Book Of Syamsul Hidayah Fiqishshatimaulidin Nabi Khairal Bariyah: Karangan Abdul Majid bin Abdul Ghaffar tahun 1939 M, huruf Arab dan Jawi, bahasa Arab dan Melayu. Berisikan tentang sejarah dan kisah kelahiran Nabi Muhammad Saw. Milik H. Tarmizi Guru Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi.
Serunya lagi para mahasiswa juga diajak menuju kantor sekaligus ruangan khusus yang terdapat beberapa lemari besi seperti brankas yang ternyata menyimpan banyak naskah-naskah kuno di dalamnya. Di ruangan tersebut para mahasiswa diperbolehkan untuk melihat lebih dekat dan mengambil beberapa gambar akan naskah-naskah yang ada. Banyak naskah-naskah yang sudah terlihat sangat usang dan rapuh, juga dibeberapa bagiannya ada yang sobek atau terpotong. Hal tersebut cukup wajar sebab usia dari naskah-naskah tersebut yang sudah tua, maka dari itu diperlukan perawatan khusus terhadap naskah-naskah tersebut dengan tidak sembarangan menyentuh atau membuka lembaran-lembarannya yang rapuh, juga hampir tiap-tiap lembar naskah diberikan kertas pelindung atau kertas asam untuk tetap menjaga kondisi naskah agar tetap bertahan dan awet. Tapi cukup disayangkan bahwasanya berdasarkan perbincangan dengan para petugas, mengatakan bahwa naskah-naskah itu masih banyak yang belum dikaji ataupun diteliti. Sebab faktor kurangnya pengetahuan atau ketidakpahaman dalam membaca, mentranskripsi serta mentransliterasikan naskah-naskah tersebut. Berikut merupakan hasil gambar yang didapati mahasiswa saat melihat naskah-naskah kuno yang belum dikaji atau diteliti secara dekat:
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
Berdasarkan pengalaman dalam kunjungan tersebut, membuat para mahasiswa berpikir dan belajar mengetahui bahwa betapa pentingnya mempelajari naskah-naskah kuno, karena dengan begitu sebagai warga Negara yang berbudaya mahasiswa dapat turut serta menjaga dan melestarikan naskah sebagai suatu kebudayaan lama yang patut dibanggakan. Terlebih mahasiswa Universitas Jambi Fakultas Ilmu Budaya terkhusus program studi Sastra Indonesia sangatlah beruntung dimana dalam proses kegiatan belajar mengajar ada mata kuliah khusus yang mempelajari mengenai naskah kuno, yakni mata kuliah Filologi.
Kemudian selain menyimpan cukup banyak naskah, di museum Gentala Arasy juga banyak menyimpan benda atau barang-barang yang memiliki nilai sejarah keislaman seperti, benda-benda logam, keramik, ukiran dan tekstil. Jadi kali ini diharapkan kepada pembaca agar setelah membaca artikel ini dapat meningkatkan minat akan pentingnya untuk mempelajari dan mengetahui sebuah kebudayaan dan apa-apa saja yang terdapat dalam kebudayaan itu. Juga turut mengetahui bahwa tidak hanya berada di lingkungan akademik saja untuk menambah ilmu pengetahuan, tetapi dengan berkunjung atau berwisata ke museum serta tempat-tempat lainnya yang mengandung nilai-nilai edukasi juga dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan. Pada akhir kunjungan para mahasiswa-mahasiswi Universitas Jambi Fakultas Ilmu Budaya terkhusus program studi Sastra Indonesia melakukan sesi foto bersama dengan petugas yang bekerja di museum Gentala Arasyi, berikut hasil gambar dari foto bersama dan beberapa gambar dari kegiatan yang dilakukan selama di museum Gentala Arasy:
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
- Foto Bersama: Para mahasiswa-mahasiswi Universitas Jambi Fakultas Ilmu Budaya terkhusus program studi Sastra Indonesia bersama petugas museum Gentala Arasy.
(Gambar diambil oleh: Risky Kurnia Syahputri, 12 Desember 2019)
- Foto Kegiatan (lokasi: kantor atau ruangan khusus museum Gentala Arasy): Para mahasiswa-mahasiswi Universitas Jambi Fakultas Ilmu Budaya terkhusus program studi Sastra Indonesia.
Terima kasih pembaca yang budiman, salam Berprestasi! Berkarya! Berbudaya!.










Bagus kak, saya jadi banyak tau soal museum Gentala Arasy. Terima kasih
BalasHapusKereeeeeennn
BalasHapus